Selasa, 17 November 2015

Kesan Pertama yang Begitu Menggoda

Hei sayang, waktu itu aku melihatmu solat di cubicle ku.
Entah apa yang Allah bisikkan ke dalam hatiku, aku melihatmu bercahaya.
Indah dan hanya keindahan yang terlihat.
Apakah ini perasaan yang akan segera berlalu atau tidak.
I am infected by you :)
Bayanganmu indah.

Minggu, 15 November 2015

Dear,

Aku jatuh cinta padamu. Aku yakin bahwa rasa ini lebih dari rasa suka. Tapi, Sayang, aku pernah memiliki rasa ini sebelumnya. Aku tidak pernah tahu manakah ujian hidup atau anugrah untukku. Kamu itu bagian dari nikmat itu sendiri atau ujian yang harus aku kendalikan.
Setiap bait doa teruntai untuk perasaan ini. Jika rasa ini memang dariNya, tentu akan ada jalan bagi kita berdua. Bersama dalam naungan ridhoNya. 
Jika pun jodoh kita hanya disini, aku hanya berharap bahwa Allah tidak akan mencabut rasa ini dengan sakit tapi pelan-pelan dengan kelembutan.
Kamulah perasaan. Kamulah keinginankilu. Kamulah hasratku.
Aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Tapi aku takut cintaku ini akan menjauhkanku dari jalanNya.
Bagaimanapun, kamu akan tetap menjadi imajinasiku. Insya Allah, jika dunia ini bukan untuk kita, Allah akan mempertemikanmu denganku di keabadian.

Aku mencintaimu.
Aku mencintaimu.
Sangat mencintaimu.

Kamis, 12 November 2015

Karena hatiku lemah....

Ketika semua bertanya tentang cinta
Aku itu lemah
Ketika mencintai, hatiku menjadi sangat lemah
Aku tidak siap disakiti oleh lelaki yang aku cintai
Allah, Engkau tahu keterbatasan diri ini

Hamba mohon janganlah menguji hamba
Melebihi kemampuan hamba...

Minggu, 08 November 2015

Dear...

Mengapa segala tentang cinta
Tiada pernah berakhir
Mengapa hati tiada pernah kosong
Selalu terikat akan seorang asing
Kali ini kamu

Kali ini aku mulai berpikir
Menyerah
Tidak melawan
Kamu

Dulu, aku merasa sangat cinta padanya
Tidak ada kamu
Kali ini kamu
Apa aku ini anak kecil yang mudah sekali melupakan memori?

,mungkinkah ini menjadi pelabuhan terakhir?
,untukku menyandarkan diriku
,selamanya berlabuh di pelukmu
,aku hanya bisa menjalani

Rabu, 07 Maret 2012

Don't Know

Oh my love
Will you hear me
Why are you flying away
And you perch anywhere
Why can't you just stay in one place
Nested there alone forever

You hurt me alot
You turn your face
When I need your help
But come to others wing...

Oh love how should I tell you
I want you be there
in the right place
Can't live without you
But you kicked me repeatedly
Oh love I hate you
But I need you

Please just reassure me...

Resah dalam Hati

Rasa berat saat ku menarik nafas ini
Teringat dirimu
Hatiku berdegup kencang bahkan tanpa ada kamu
Tanganku lemah saat merasa derasnya darah ini mengalir
dalam tubuhku

Aku hanya ingin selalu tersenyum
Mengingat kamu di hari-hariku
Akankah ini takdir
atau hanya sebuah persinggahan
Aku meragu

Kubayangkan tak ada jalan bagi kita
Menapaki rindu ini
Apakah kubiarkan rasa ini

Oh apakah ini cinta
atau apa
Sungguh kumeragu dalam hidupku
Tapi dirimu tak lekang waktu

Sabtu, 26 Februari 2011

Ciri Orang Besar Memulai Perubahan


www.dakwatuna.com
Artikel Lepas
28/1/2011 | 22 Shafar 1432 H | Hits: 12.783
Oleh: Fitria Meysti Sari

dakwatuna.com – Pagi yang indah selalu dihadirkan Allah SWT untuk kita yang memiliki keterpautan hati dan bisa merasakan betapa besar Cinta-Nya pada hambanya. Mata yang masih bisa melihat Keindahan itu, udara yang masih bisa kita hirup, aliran darah dan denyut nadi yang masih bisa kita rasakan, menunjukkan jika kita masih diberi eksistensi oleh-Nya. Rasulullah SAW yang melihat umatnya dari syurga Firdaus-Nya, mendoakan kita yang tak kenal letih memperjuangkan risalah dakwah untuk kejayaan Islam di Bumi Allah ini. Semoga kelak kita semua dikumpulkan bersama Baginda Rasul dan para keluarga serta sahabat.

Terkadang kita ini terlalu banyak menggunakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk sesuatu di luar diri kita. Juga terlalu banyak energi dan potensi kita untuk memikirkan selain diri kita, baik itu merupakan kesalahan, keburukan, maupun kelalaian. Namun ternyata sikap kita yang kita anggap kebaikan itu tidak efektif untuk memperbaiki yang kita anggap salah. Banyak orang yang menginginkan orang lain berubah, tapi ternyata yang diinginkannya itu tak kunjung terwujud. Kita sering melihat orang yang menginginkan Indonesia berubah. Tapi, pada saat yang sama, ternyata keluarganya ‘babak belur’, di kampus tak disukai, di lingkungan masyarakat tak bermanfaat. Itu namanya terlampau muluk.

Jangankan mengubah Indonesia, mengubah keluarga sendiri saja tidak mampu. Banyak yang menginginkan situasi negara berubah, tapi kenapa merubah sikap adik saja tidak sanggup. Jawabnya adalah: kita tidak pernah punya waktu yang memadai untuk bersungguh-sungguh mengubah diri sendiri. Tentu saja, jawaban ini tidak mutlak benar. Tapi jawaban ini perlu diingat baik-baik. Siapa pun yang bercita-cita besar, rahasianya adalah perubahan diri sendiri. Ingin mengubah Indonesia, caranya adalah ubah saja diri sendiri. Betapapun kuatnya keinginan kita untuk mengubah orang lain, tapi kalau tidak dimulai dari diri sendiri, semua itu menjadi hampa. Setiap keinginan mengubah hanya akan menjadi bahan tertawaan kalau tidak dimulai dari diri sendiri. Orang di sekitar kita akan menyaksikan kesesuaian ucapan dengan tindakan kita.

Boleh jadi orang yang banyak memikirkan diri sendiri itu dinilai egois. Pandangan itu ada benarnya jika kita memikirkan diri sendiri lalu hasilnya juga hanya untuk diri sendiri. Tapi yang dimaksud di sini adalah memikirkan diri sendiri, justru sebagai upaya sadar dan sungguh-sungguh untuk memperbaiki yang lebih luas. Perumpamaan yang lebih jelas untuk pandangan ini adalah seperti kita membangun pondasi untuk membuat rumah. Apalah artinya kita memikirkan dinding, memikirkan genteng, memikirkan tiang yang kokoh, akan tetapi pondasinya tidak pernah kita bangun. Jadi yang merupakan titik kelemahan manusia adalah lemahnya kesungguhan untuk mengubah dirinya, yang diawali dengan keberanian melihat kekurangan diri.

Pemimpin mana pun bakal jatuh terhina manakala tidak punya keberanian mengubah dirinya. Orang sukses mana pun bakal rubuh kalau dia tidak punya keberanian untuk mengubah dirinya. Kata kuncinya adalah keberanian. Berani mengejek itu gampang, berani menghujat itu mudah, tapi, tidak sembarang orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri. Ini hanya milik orang-orang yang sukses sejati. Orang yang berani membuka kekurangan orang lain, itu biasa. Orang yang berani membincangkan orang lain, itu tidak istimewa. Sebab itu bisa dilakukan oleh orang yang tidak punya apa-apa sekali pun. Tapi, kalau ada orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri, bertanya tentang kekurangan itu secara sistematis, lalu dia buat sistem untuk melihat kekurangan dirinya, inilah calon orang besar.

Mengubah diri dengan sadar, itu juga mengubah orang lain. Walaupun dia tidak berucap sepatah kata pun untuk perubahan itu, perbuatannya sudah menjadi ucapan yang sangat berarti bagi orang lain. Percayalah, kegigihan kita memperbaiki diri, akan membuat orang lain melihat dan merasakannya. Memang pengaruh dari kegigihan mengubah diri sendiri tidak akan spontan dirasakan. Tapi percayalah, itu akan membekas dalam benak orang. Makin lama, bekas itu akan membuat orang simpati dan terdorong untuk juga melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Ini akan terus berimbas, dan akhirnya semakin besar seperti bola salju. Perubahan bergulir semakin besar.

Jadi kalau ada orang yang bertanya tentang sulitnya mengubah keluarga, sulitnya mengubah anak, jawabannya dalam diri orang itu sendiri. Jangan dulu menyalahkan orang lain, ketika mereka tidak mau berubah. Kalau kita sebagai ustadz, atau kyai, jangan banyak menyalahkan santrinya. Tanya dulu diri sendiri. Kalau kita sebagai pemimpin, jangan banyak menyalahkan bawahannya, lihat dulu diri sendiri seperti apa. Kalau kita sebagai pemimpin negara, jangan banyak menyalahkan rakyatnya. Lebih baik para penyelenggara negara gigih memperbaiki diri sehingga bisa menjadi teladan. Insya Allah, walaupun tanpa banyak berkata, dia akan membuat perubahan cepat terasa, jika berani memperbaiki diri. Itu lebih baik dibanding banyak berkata, tapi tanpa keberanian menjadi suri teladan. Jangan terlalu banyak bicara. Lebih baik bersungguh-sungguh memperbaiki diri sendiri. Jadikan perkataan makin halus, sikap makin mulia, etos kerja makin sungguh-sungguh, ibadah kian tangguh. Ini akan disaksikan orang.

Membicarakan dalil itu suatu kebaikan. Tapi pembicaraan itu akan menjadi bumerang ketika perilaku kita tidak sesuai dengan dalil yang dibicarakan. Jauh lebih utama orang yang tidak berbicara dalil, tapi berbuat sesuai dalil. Walaupun tidak dikatakan, dirinya sudah menjadi bukti dalil tersebut. Mudah-mudahan, kita bisa menjadi orang yang sadar bahwa kesuksesan diawali dari keberanian melihat kekurangan diri sendiri. Jadi teringat kutipan kata bijak dari sebuah buku seperti ini:

Jadilah kau sedemikian kuat sehingga tidak ada yang dapat mengganggu kedamaian pikiranmu

Lihatlah sisi yang menyenangkan dari setiap hal

Senyumlah pada setiap orang

Gunakanlah waktumu sebanyak mungkin untuk meningkatkan kemampuanmu sehingga kau tak punya waktu lagi untuk mengkritik orang lain

Jadilah kau terlalu besar untuk khawatir dan terlalu mulia untuk meluapkan kemarahan

Satu-satunya tempat dimana kita dapat memperoleh keberhasilan tanpa kerja keras adalah hanya dalam kamus.

Di awal tahun, awal bulan dan awal minggu (Jum’at adalah awal minggu bagi umat Islam), ayo kita semua mulai memperbaiki diri. Suatu karya besar selalu diciptakan oleh orang-orang yang berfikir besar. Namun perubahan besar pasti dimulai dari satu langkah kecil, dan itu dimulai dari diri kita masing-masing.

Wallahualam bishowab